Perwujudan Perang Pemikiran



Abstraksi Jiwa
Sketsa Peradaban
#Perwujudan Perang Pemikiran




PERWUJUDAN PERANG PEMIKIRAN
Oleh: Niki W S

“Rusaknya pola pikir lebih tragis daripada penyakit fisik yang mematikan sekalipun”
 (Niki W S)

Hemegomi barat terhadap dunia pemikiran islam begitu kuat kita rasakan, Perang pemikiran atau lebih dikenal ghawzul fikr telah terasa menyerang disegenap lini kehidupan dunia islam, mulai dari pendidikan, sosial, ekonomi dan sains yang kesemua itu kemudian merambah pada berubanya pola pikir  masyarakat kearah sekuler dan amoral.
Saat ini banyak paham-paham yang keliru dihembuskan lewat orientalis maupun seorang muslim yang menjadi kaki tangan mereka. Adapun paham-paham yang keliru misalnya, pluralisme, liberalisme dan sekulerlisme. Dengan gencarnya lewat berbagai media massa maupun elektronik mereka mencipta stigma buruk terhadap dunia islam. Mulai dari film-film yang seolah-olah memberi pesan humanis namun sejatinya liberalis dan pluralis  sampai pada berita-berita dusta yang seolah-olah terpercaya, kesemua itu sukses mereka suguhkan di tengah-tengah keluarga masyarakat kita, disadari atau tidak informasi-informasi sampah tersebut setiap hari masyarakat islam mengkonsumsinya, lambat laun pola pikir dan keyakinan masyarakat islam yang semestinya religius, menjadi kehilangan arah tanpa tujuan yang jelas. Suskesnya mereka (musuh-musuh islam) melakukan pencitraan negatif terhadap islam mulai kita rasakan, islam yang indentik dengan kedamaian, kesejahteraan, dan ketenangan menjadi seakan-akan agama yang kejam, sadis, menebar permusuhan, intolerir dan tidak berprikemanusiaan hingga label terorisme pun telah begitu melekat pada islam, dan ironisnya muncullah generasi-generasi dari islam itu sendiri yang takut terhadap islam, jika orang kafir takut islam itu biasa, tapi kalau orang islam takut islam itu luar dari kebiasaaan, na’ubillah min dzalik .
Isu-isu kebohongan mereka sebarkan melalui dunia pendidikan. Lewat penyusunan kurikulum pendidikan yang miskin akan materi keislaman, menjadikan tidak berimbangnya pengetahuan yang diperoleh oleh anak didik, yang akhirnya dalam menyikapi sebuah problematika kehidupan mereka lebih cenderung mengedapankan rasional daripada akidah. Contoh sederhananya, di dunia perguruan tinggi diajarkan mata kuliah filsafat, baik itu filsafat logika, filsafat ilmu, filsafat manusia ataupun filsafat islam menjadi bagian dari matakuliah wajib, namun sayangnya ilmu yang “asing”, kontradiktif dan penuh kontroversial terhadap islam,  sebagian besar diajarkan tanpa ada batasan tertentu atau tanpa ada perbandingan antara perspektif islam dan filsafat itu sendiri. padahal hal tersebut sangat perlu dilakukan agar mahasiswa dapat dibimbing untuk memilah dan mengambil yang ilmu yangt positifnya.
Melalui seminar-seminar yang berkedok idealisme paham-paham itu dijajakan dengan bungkusan keilmiahan, tak luput para akademisi menelan mentah-mentah ide-ide yang merusak pola fikir, dan kemudian diwarisi melalui anak didik yang dibodohi oleh kurikulum sekuler. misalnya, isu kesetaraan gender yang telah jelas hanya akan merugikan wanita, di jadikan isu untuk menuntut keadilan gender dengan menggugat keabsahan dalil-dalil naqli.
Lewat pemerintahan dan media yang sekuler, paham-paham tersebut amat laris “dibeli” oleh masyarakat. Hal-hal yang berkaitan dengan islam seakan-akan menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat, mulai dari pesantren yang dianggap sarang teroris, berpenampilan islami --misalnya berjenggot bagi pria dan berjilbab lebar bagi wanita-- dianggap eklusif, bahkan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler siswa yang berkaitan dengan islam atau lebih dikenal dengan Rohaniawan Islam (ROHIS) dituding sebagai pencetak kader-kader teroris. Sebaliknya, pacaran dan bahkan hamil luar nikah menjadi hal yang lumrah, tidak lagi menjadi hal yang tabu dan memalukan. Generasi tua sibuk terhadap prestasi duniawi anaknya, sedangkan anaknya  sibuk dengan dunia kehidupannya sendiri, mereka laksana buih disamudra tak bertepi dan hanyut tanpa tujuan yang jelas, tak tahu jati diri sesungguhnnya.
Secara umum ada dua bentuk perwujudan dari perang pemikiran yang nyata dirasakan, sedangkan lainnya bermuara dari dua hal tersebut, adapun dua bentuk perwujudan perang pemikiran adalah:
1.   Keyakinan
Seperti yang telah sedikit dipaparkan diatas mengenai faham-faham yang merusak pola pikir generasi islam. Masalah  keyakinan memang merupakan target utama dari perang pemikiran. Pola fikir merupakan hal yang fundamental dalam hidup ini. pola pikir yang bersumber dari akidah benar akan melahirkan akhlak yang benar pula. sejarah membuktikan bahwa keyakinan yang termasuk didalamnya keimanan merupakan hal penting, bagaimana sebuah imperium yang besar seperti khilafah utsmaniyah dibangun atas dasar kekokohan iman, namun akhirnya runtuh karena permasalahan degradasi moral para petinggi-petinggi dan masyarakat itu sendiri yang bersumber dari melemahnya aqidah. Bukan itu saja, sejarah islam juga mencatat, ketika musuh-musuh islam memiliki persenjataan yang lebih canggih disaat itu dan memiliki jumlah tentara yang besar, mampu ditaklukkan oleh kaum muslimin yang jumlahnya lebih kecil dan memiliki persenjataan yang terbatas, demi Allah kemenangan itu diraih karena telah mendarah daging semangat jihad yang dilandasi kekokohan iman, sehingga usaha dan do’a yang dilakukan dijabah dengan pertolonganNya.
MUI (majelis Ulama Islam) menjabarkan mengenai tiga paham keliru yang meresahkan masyarakat islam, paham-paham tersebut yang biasa disingkat dengan SEPILIS (sekuler, pluralisme dan sekulerisme), yaitu:
  1. Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga.
  2. Liberalisme adalah memahami nash-nash agama (Al-Qur’an & Sunnaah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas; dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.
  3. sekulerisme adalah memisahkan urusan dunia dari agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.
Sebagai umat islam, sikap yang mesti diinternalisasi adalah pluralitas agama bukan pluralisme agama. Pluralitas agama adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan. Seperti yang termaktub dalam ketentuan hukum pada fatwa MUI:
Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama), dalam masalah social yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak saling merugikan.
2.      Budaya   :
Perang pemikiran juga menyerang eksistensi warisan budaya islam. Pola tatanan interaksi masyarakat yang islami mulai tercabik-cabik oleh budaya-budaya non muslim. Derasnya westernisasi mulai memporak-porandakan sistem pergaulan masyarakat islam, ancaman tersebut datang bukan hanya dari luar, namun ditambahkanya budaya lokal  yang tidak islami, dan cenderung sinkretik dan mistik. Keresahan para ulama akan hal ini seakan tak terselesaikan, permasalahan degradasi moral telah menjadi santapan harian, kemerosotan akhlak kian jelas terasa, dan akhirnya islam menjadi asing bagi pemeluknya.
Sebagai makhluk yang bermatabat, Allah membekali manusia dengan akal untuk berfikir untuk menjaga fitrah dan kehormatannya. Dalam islam, baik itu pria maupun wanita berkewajiban menutup aurat.  kewajiban untuk menutup aurat tak ubahnya sebuah aturan yang diciptakan manusia, ditinggalkan dan dibuang semaunya, di gunakan hanya untuk kepentingan-kepentingan duniawi.
 Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan teman atau orang-orang lain untuk berinteraksi, karena memang manusia tidak bisa hidup sendiri. Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin, telah menetapkan tata cara pergaulan yang baik antara sesama maupun berbeda jenis kelamin. Namun, dewasa ini sistem pergaulan islami menjadi barang langka, jika ada orang yang menerapkan akan dianggap aneh dan asing. Pria dan wanita bergaul tanpa batasan yang jelas, ditambah lagi sikap permisif pada orang tua terhadap anaknya, hanya dengan dasar bahwa anaknya sudah besar dan mampu menjaga diri membolehkan dan membiarkan anak-anaknya berpacaran. Sikap menerima dan membolehkan pacaran merupakan salah satu bentuk tercemarnya pola pikir yang telah terkontaminasi oleh budaya-budaya diluar islam dan didukung pemahaman islam yang seadanya.
Memang sepenuhnya kita tidak bisa menyalahkan budaya barat, karena memang budaya tersebut lahir dari tatanan masyarakat yang bersumber dari ideologi mereka, yang pastinya sebagai umat islam kita mesti memahami sepak terjang dari musuh-musuh islam. Para musuh-musuh islam tidak tidur, mereka terus bergerak, dan bergerak mencari celah dari kelalaian kita. Sudah saatnya kita memfilterisasi pemahaman-pemahaman dan budaya-budaya yang merusak jati diri generasi muslim dengan dakwah yang intens. Waullahualam bis shawab.
Referensi Pendukung:

0 komentar:

Posting Komentar